30 April 2014

MAKALH METODE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA



METODE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

 tiga macam  metode dalam pembelajaran matematika
1.   Metode Ekspositori
Dalam metode ekspositori, guru menjelaskan dan menyampaikan informasi, pesan, atau konsep kepada siswa dalam kelas. Langkah-langkah pengajaran dengan metode ekspositori adalah sebagai berikut :
a.       Pertama, sebelum menjelaskan dan menyampaikan pesan atau konsep, guru menuliskan topic, menginformasikan tujuan pembelajaran, menyampaikan dan  megulas materi prasyarat, serta memotivasi siswa.
b.      Kedua, guru menjelaskan dan menyajikan pesan atau konsep kepada para siswa dengan lisan atau tertulis. Supaya konsep yang dijelaskan dapat dipahami oleh siswa, guru biasanya memberi contoh dan mengajukan pertanyaan secara lisan serta meringkas konsep yang telah disampaikan.
c.       Ketiga, guru meminta siswa baik secara perorangan atau kelompok untuk menggunakan konsep yang telah dipelajari dengan cara mengerjakan soal yang telah disediakan.
Setidak-tidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam metode Ekspositori ini, yaitu : Pertama, konsep disajikan secara lisan atau verbal. Kedua, pelajaran  terarah, terpusat atau terorientasi pada guru. Maksudnya adalah bahwa guru bertindak sebagai sumber utama tentang pengetahuan matematika, dan guru adalah satu-satunya orang yang membuat keputusan tentang bagaimana pengembangan pelajaran harus dilakukan. Karena itu, cara pengajaran seperti ekspositori dinamakan pembelajaran terarah dari guru. Walaupun metode pembelajaran  ini terarah dari guru, proses dan hasil pembelajaran bisa tetap efektif. Hal ini bergantung pada pengalaman guru dalam memilih dan menggunakan  teknik pembelajaran. Biasanya teknik pembelajaran yang dapat dipilih dan digunakan antara lain adalah teknik keterlibatan, teknik analogi, teknik definisi dan contoh, teknik aturan, serta teknik analisis.
Teknik keterlibatan merupakan suatu proses mengajar yang melibatk semua siswa selama proses pembelajaran. Misalnya guru mengajukan pertanyaan secara lisan kepada semua siswa dalam kelas. Guru meminta siswa agar menuliskan jawaban pertanyaan tadi pada sehelai kertas.
Teknik analogi merupakan suatu proses mengajar dan gurunya berusaha untuk menyederhanakan suatu konsep yang abstrak dan sulit, agar siswa dapat memahami konsep tersebut.
Teknik definisi dan contoh,  merupakan suatu proses mengajar di mana guru memberikan suatu pertanyaan yang benar (definisi). Kemudian guru mengemukakan contoh yang mendukung atau  tidak kepada pernyataan tersebut.                     
Teknik aturan merupakan teknik mengajar di mana guru mengemukakan aturan-aturan, hukum, prosedur atau rumus tertentu untuk diikuti siswa. Teknik ini hampir sama dengan teknik definisi dan contoh.
Teknik analisis merupakan suatu teknik mengajar dimana guru berusaha menguraikan suatu konsep ke dalam langkah-langkah tertententu
Ketiga, guru menjelaskan setiap langkah pelajaran sebelum  para siswa diberi tugas untuk menyelesaikan  masalah. keempat, peranan siswa lebih bersifat pasif, karena siswa lebih banyak mendengar penjelasan dari guru ketimbang memahami materi yang dijelaskan guru.
2.   Metode Penemuan
Pembelajaran dengan  menggunakan metode penemuan pada hakikatnya adalah untuk mendorong siswa agar memahami sesuatu. Sesuatu  tersebut dapat berupa fakta, konsep, pola, sifat, rumus tertentu, atau relasi matematika yang masih baru bagi siswa.
Kesemua fakta, konsep, pola, sifat, rumus, atau relasi matematika tersebut sebenarnya telah  ada atau telah ditemukan sebelumnya, namun belum pernah diajarkan kepada para siswa secara langsung, baik oleh guru yang bersangkutan maupun oleh orang lain. Metode penemuan biasanya membutuhkan waktu yang lama jika dibandingkan dengan metode ekspositori, karena kegiatan ini mengembangkan konsep maupun keterampilan matematika dalam kaitannya dengan pemecahan  masalah. Untuk membuat prosedur ini menjadi lebih efisien, guru harus mengkonstruksikan masalah itu secara hati-hati, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci.
Metode penemuan dibagi menjadi dua jenis yaitu : penemuan murni dan penemuan terbimbing.
Pada pelajaran yang dilaksanakan dengan penemuan murni, pelajaran terfokus pada siswa dan tidak terfokus pada guru. Siswalah yang menentukan tujuan dan pengalaman belajar yang diinginkan. Peran guru adalah menyajikan suatu situasi belajar atau masalah kepada para siswa. Kemudian para siswa diminta untuk mengkaji dan menemukan fakta atau relasi yang terdapat dalam masalah  dan akhirnya para siswa juga yang akan  menarik suatu generalisasi dari apa yang mereka temukan. Pendekatan seperti ini tentu saja hanya dapat digunakan dan diterapkan kepada beberapa siswa yang tergolong pandai.
 penemuan  terbimbing atau  inquiry, guru mengajarkan atau memberi petunjuk kepada siswa tentang materi pelajaran. Kadar bimbingan yang diberikan guru sangat bergantung  pada kemampuan para siswa dan topik yang dipelajarinya. Adanya bimbingan ini memungkinkan berkurangnya tingkat frustasi yang dihadapi para siswa, tetapi sering mengakibatkan pembatasan proses penemuan. Bentuk bimbingan yang diberikan guru bisa berupa petunjuk, arahan, pertanyaan, atau dialog, sehingga diharapkan siswa sampai pada kesimpulan atau generalisasi sesuai dengan yang dirancang dan diinginkan guru. Perlu diperhatikan bahwa jika guru ingin menggunaka metode penemuan dan pembelajaran  matematika, guru harus sudah merancang secara jelas generalisasi atau kesimpulan apa yang harus ditemukan oleh para siswa.
3.   Metode Laboratori
Metode laboratori merupakan metode mengajar yang orientasi kegiatannya didasarkan atas percoban dan penyelidikan dengan objek-objek fisik. Siswa dibiarkan untuk melakukan perobaan dan penyelidikan individual, berpasangan, dan atau berkelompok dan bebas menggunakan benda-benda yang dapat dimanipulasi. Benda-benda yang dimaksud misalnya penggaris, kelereng, bola, jam, koin logam, kalkulator, kubus, geoboard, kartu domino, dadu, dan benda-benda lainnya yang dirancang secara khusus.



Flowchart: Connector: dSebagai contoh guru ingin mengajarkan konsep bilangan π (dibaca : pi). Siswa diminta untuk melakukan percobaan mengukur diameter dan keliling tiga benda berbentuk lingkaran yang berbeda ukuran jari-jarinya. Siswa harus mencatat ukuran atau panjang diameter (garis tengah = d) dan keliling (K) lingkaran tersebut, kemudian mencatat hasil bagi  pada tabel yang disediakan seperti berikut :






Flowchart: Connector: d

Flowchart: Connector: d

 
                                                                                    

a.       Lig 1                           b. Lig 2                              c. Lig 3

Lingkaran

Diameter (d)

Keliling (K)
Keliling :diameter
K/d
Lingakran 1
3,24 cm
10,17 cm
3,14
Lingkaran 2
4 cm
12,56cm
3,14
Lingkaran 3
5 cm
15,7 cm
3,14
Dengan percobaan seperti itu, diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa tiga kali percobaan, diketahui nilai  adalah sama atau hampir sama. Nilai  inilah yang disebut bilangan π (pi) yang besarnya sekitar 3,14.
Karena K/d = p, maka K = p × d = 3,14 × d
K = 3.14 × 2 r atau K = 2 p r


Tidak ada komentar:

Posting Komentar