30 April 2014

TUGAS GBPP



PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

Hubungan Muatan Antar KD dan SK Pelajaran Matematika
îStandar Isi (SI), untuk satuan dikdasmen pada suatu mata pelajaran mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu dan hal itu tercantum pada lampiran Permendiknas Nomor 22 tahun 2006. Pada SI mata pelajaran matematika dimuat daftar SK dan KD yang harus dikuasai siswa.
A. Standar Kompetensi (SK)
SK dapat didefinisikan sebagai “pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran” (Center for Civ¬ics Education, 1997:2. SK yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran tertentu seperti Kewarganegaraan, Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. SK yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaan peserta didik terhadap SI.
B. Kompetensi Dasar (KD)
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dalam hal ini kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu.

Muatan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Mata Pelajaran Matematika
îSKL untuk satuan dikdasmen disahkan dengan Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. SKL yang ada pada Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 adalah SKL minimal satuan dikdasmen, SKL minimal kelompok mata pelajaran dan SKL minimal mata pelajaran.
C. Indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
Menurut Depag indikator adalah wujud dari kompetensi dasar yang lebih spesifik. Sedangkan menurut E Mulyasa indicator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda perbuatan dan respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik.

Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)

            GBPP adalah ikhtisar keseluruhan program pengajaran yang terdiri atas tujuan kulikuler, tujuan instruksional umum, dan ruang lingkup bahan pengajaran, yang diatur dan disusun secara berurutan menurut semester/caturwulan dan kelas yang berfungsi sebagai pedoman bagi para pengawas, kepala sekolah, dan guru dalam rangka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
 Tujuan instruksional
            Tujuan instruksional masih berifat umum kendatipun telah bertitik tolak dari perubahan tingkah laku yang diharapkan dalam bidang studi tersebut. Tujuan instruksional umum atau sering disebut TIU merupakan penjabaran dari tujuan-tujuan kurikuler.
            Subpokok-subpokok bahasan merupakan perincian dan setiap poko bahasan. Misalnya kita ambil pokok bahasan tentang diferensial dan integral. Pokok bahasn itu diperinci menjadi sejumlah subpokok bahasn sebagai berikut. Pengertian diferensial, rumus-rumus hitung diferensial, contoh-contoh pemakaian dan perhitungan, pengertian integral, rumus-rumus integral, seperti contoh-contoh pemakaian dan soal-soal. Setiap pokok bahasan telah diperinci sedemikian rupa. Perincian penting artinya terutama dalam rangka penyusunan model satuan pengajaran (MSP). Subpokok bahasan tersebut lebih diperinci sesuai dengan bahan pengajaran, bahan dalam buku sumber dalam rangka mencapai tujuan-tujuan instruksional khusus (TIK).

MAKALAH METODE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA II

METODE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

 Tiga macam  metode dalam pembelajaran matematika
1.   Metode Ekspositori
Dalam metode ekspositori, guru menjelaskan dan menyampaikan informasi, pesan, atau konsep kepada siswa dalam kelas. Langkah-langkah pengajaran dengan metode ekspositori adalah sebagai berikut :
a.       Pertama, sebelum menjelaskan dan menyampaikan pesan atau konsep, guru menuliskan topic, menginformasikan tujuan pembelajaran, menyampaikan dan  megulas materi prasyarat, serta memotivasi siswa.
b.      Kedua, guru menjelaskan dan menyajikan pesan atau konsep kepada para siswa dengan lisan atau tertulis. Supaya konsep yang dijelaskan dapat dipahami oleh siswa, guru biasanya memberi contoh dan mengajukan pertanyaan secara lisan serta meringkas konsep yang telah disampaikan.
c.       Ketiga, guru meminta siswa baik secara perorangan atau kelompok untuk menggunakan konsep yang telah dipelajari dengan cara mengerjakan soal yang telah disediakan.
Setidak-tidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam metode Ekspositori ini, yaitu : Pertama, konsep disajikan secara lisan atau verbal. Kedua, pelajaran  terarah, terpusat atau terorientasi pada guru. Maksudnya adalah bahwa guru bertindak sebagai sumber utama tentang pengetahuan matematika, dan guru adalah satu-satunya orang yang membuat keputusan tentang bagaimana pengembangan pelajaran harus dilakukan. Karena itu, cara pengajaran seperti ekspositori dinamakan pembelajaran terarah dari guru. Walaupun metode pembelajaran  ini terarah dari guru, proses dan hasil pembelajaran bisa tetap efektif. Hal ini bergantung pada pengalaman guru dalam memilih dan menggunakan  teknik pembelajaran. Biasanya teknik pembelajaran yang dapat dipilih dan digunakan antara lain adalah teknik keterlibatan, teknik analogi, teknik definisi dan contoh, teknik aturan, serta teknik analisis.
Teknik keterlibatan merupakan suatu proses mengajar yang melibatk semua siswa selama proses pembelajaran. Misalnya guru mengajukan pertanyaan secara lisan kepada semua siswa dalam kelas. Guru meminta siswa agar menuliskan jawaban pertanyaan tadi pada sehelai kertas.
Teknik analogi merupakan suatu proses mengajar dan gurunya berusaha untuk menyederhanakan suatu konsep yang abstrak dan sulit, agar siswa dapat memahami konsep tersebut.
Teknik definisi dan contoh,  merupakan suatu proses mengajar di mana guru memberikan suatu pertanyaan yang benar (definisi). Kemudian guru mengemukakan contoh yang mendukung atau  tidak kepada pernyataan tersebut.                      
Teknik aturan merupakan teknik mengajar di mana guru mengemukakan aturan-aturan, hukum, prosedur atau rumus tertentu untuk diikuti siswa. Teknik ini hampir sama dengan teknik definisi dan contoh.
Teknik analisis merupakan suatu teknik mengajar dimana guru berusaha menguraikan suatu konsep ke dalam langkah-langkah tertententu
Ketiga, guru menjelaskan setiap langkah pelajaran sebelum  para siswa diberi tugas untuk menyelesaikan  masalah. keempat, peranan siswa lebih bersifat pasif, karena siswa lebih banyak mendengar penjelasan dari guru ketimbang memahami materi yang dijelaskan guru.
2.   Metode Penemuan
Pembelajaran dengan  menggunakan metode penemuan pada hakikatnya adalah untuk mendorong siswa agar memahami sesuatu. Sesuatu  tersebut dapat berupa fakta, konsep, pola, sifat, rumus tertentu, atau relasi matematika yang masih baru bagi siswa.
Kesemua fakta, konsep, pola, sifat, rumus, atau relasi matematika tersebut sebenarnya telah  ada atau telah ditemukan sebelumnya, namun belum pernah diajarkan kepada para siswa secara langsung, baik oleh guru yang bersangkutan maupun oleh orang lain. Metode penemuan biasanya membutuhkan waktu yang lama jika dibandingkan dengan metode ekspositori, karena kegiatan ini mengembangkan konsep maupun keterampilan matematika dalam kaitannya dengan pemecahan  masalah. Untuk membuat prosedur ini menjadi lebih efisien, guru harus mengkonstruksikan masalah itu secara hati-hati, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci.
Metode penemuan dibagi menjadi dua jenis yaitu : penemuan murni dan penemuan terbimbing.
Pada pelajaran yang dilaksanakan dengan penemuan murni, pelajaran terfokus pada siswa dan tidak terfokus pada guru. Siswalah yang menentukan tujuan dan pengalaman belajar yang diinginkan. Peran guru adalah menyajikan suatu situasi belajar atau masalah kepada para siswa. Kemudian para siswa diminta untuk mengkaji dan menemukan fakta atau relasi yang terdapat dalam masalah  dan akhirnya para siswa juga yang akan  menarik suatu generalisasi dari apa yang mereka temukan. Pendekatan seperti ini tentu saja hanya dapat digunakan dan diterapkan kepada beberapa siswa yang tergolong pandai.
 penemuan  terbimbing atau  inquiry, guru mengajarkan atau memberi petunjuk kepada siswa tentang materi pelajaran. Kadar bimbingan yang diberikan guru sangat bergantung  pada kemampuan para siswa dan topik yang dipelajarinya. Adanya bimbingan ini memungkinkan berkurangnya tingkat frustasi yang dihadapi para siswa, tetapi sering mengakibatkan pembatasan proses penemuan. Bentuk bimbingan yang diberikan guru bisa berupa petunjuk, arahan, pertanyaan, atau dialog, sehingga diharapkan siswa sampai pada kesimpulan atau generalisasi sesuai dengan yang dirancang dan diinginkan guru. Perlu diperhatikan bahwa jika guru ingin menggunaka metode penemuan dan pembelajaran  matematika, guru harus sudah merancang secara jelas generalisasi atau kesimpulan apa yang harus ditemukan oleh para siswa.
3.   Metode Laboratori
Metode laboratori merupakan metode mengajar yang orientasi kegiatannya didasarkan atas percoban dan penyelidikan dengan objek-objek fisik. Siswa dibiarkan untuk melakukan perobaan dan penyelidikan individual, berpasangan, dan atau berkelompok dan bebas menggunakan benda-benda yang dapat dimanipulasi. Benda-benda yang dimaksud misalnya penggaris, kelereng, bola, jam, koin logam, kalkulator, kubus, geoboard, kartu domino, dadu, dan benda-benda lainnya yang dirancang secara khusus.











Contoh soal dari masing-masing teknik pada metode ekspositori
1.      Teknik keterlibatan
Ukurulah panjang benda-benda berikut menggunakan penggaris!
Buku tulis, pensil, pena dan kotak pensil.
Penyelesaian :
Buku tulis panjangnya : 21  cm
Pensil panjangnya : 17 cm
Pena panjangnya : 15 cm
Kotak pensil panjangnya : 19 cm

2.      Teknik analogi
Pada teknik ini guru berusaha untuk menyerderhanakan suatu konsep yang sulit. Guru dapat memberikan soal cerita kepada siswanya, seperti contoh dibawah ini :
Ada 3 kantong plastik. Tiap kantong berisi 5 permen. Berapa banyak mangaseluruhnya?
Penyelesaian :
3 x 5 = 15

3.      Teknik definisi contoh
Kelompokkan bangun datar dibawah ini dan beri warna tiap bamgun datar, warna biru untuk segitiga, warna kuning untuk lingkaran dan warna hijau untuk segi empat !




























 






Penyelesaian:
1.      Segitiga








 




2.      Lingkaran








 




3.      Segi empat








 




4.      Teknik aturan





5.      Teknik analisis
12     = 10 + 2
14     = 10 + 4    +
                              
          = 20 + 6
          = 26


Contoh soal dari metode penemuan dan laboratory
1.      Metode penemuan
a.       Penemuan murni
Siswa SD telah mengetahui luas persegi sisi kali sisi. Dengan mengunakan rumus itu siswa diminta untuk dapat menemukan rumus keliling persegi.






















L = s x s
 



s
 





s
 







s
 





s
 
 
























b.      Penemuan terbimbing
Untuk mengajarkan sifat pertukaran pada penjumlahan mengunakan metode penemuan
Contoh :
         5 + 7 = 12                     7 + 5 = 12
         8 + 5 =  13                    5 + 8 = 13
         9 + 8 = 17                     8 + 9 = 17

2.      Metode laboratory
Untuk mengajarkan keliling bangun datar persegi panjang, tentukan keliling dari benda berikut :
Buku tulis, kotak pensil,
Penyelesaian :
            Keliling buku tulis
            Kll = panjang + lebar + panjang + lebar
                  = ( 2 x panjang ) + ( 2 x lebar )
                  = ( 2 x 17 ) + ( 2 x 10 )
                 = 34 + 20
                 = 54 cm
           
            Keliling kotak pensil
            Kll = panjang + lebar + panjang + lebar
                  = ( 2 x panjang ) + ( 2 x lebar )
                  = ( 2 x 11 ) + ( 2 x 7 )
                  = 22 + 14
                  = 36 cm